Mengenal Sejarah Kain Tenun Lurik

Menurut sejarah, kain tenun lurik udah tersedia terhadap Zaman Pra Sejarah, perihal ini dibuktikan terhadap Prasasti peninggalan kerajaan Mataram yang perlihatkan ada kain lurik pakan malang. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 yang menjelaskan bahwa kain tuluh watu adalah tidak benar satu nama kain lurik. Dan juga pemanfaatan selendang terhadap arca terracotta asal Trowulan di Jawa Timur dari abad 15 M perlihatkan pemanfaatan kain lurik terhadap era itu.

Adanya tenun di Pulau Jawa diperkuat bersama pemanfaatan tenun terhadap arca-arca dan relief candi yang tersebar di pulau Jawa. Kain Lurik ini tersebar di daerah Yogyakarta, Solo dan Tuban. Lurik berasal dari bhs Jawa kuno yakni lorek yang artinya lajur atau garis, belang bisa pula artinya corak.

Tenun Lurik sendiri miliki 3 motif dasar, yakni :
• Motif lajuran bersama corak garis-garis panjang Sejalan sehelai kain
• Motif pakan malang yang miliki garis-garis Sejalan lebar kain,
• Motif cacahan adalah lurik bersama corak kecil-kecil.

Ketika era dahulu, kain tenun lurik ini ditenun bersama gunakan benang katun yang dipintal bersama tangan dan ditenun jadi selembar kain bersama alat yang disebut Gedog. Alat ini membuahkan kain bersama lebar cuma 60cm saja.

Seiring perkembangan jaman, kain tenun lurik ini merasa diproduksi gunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang lebih modern dan bisa membuahkan kain bersama lebar 150cm. Proses pemintalan kain katun udah dikerjakan bersama modern, yakni gunakan mesin.

Salah satu inti yang mengakibatkan sebuah kain disebut sebagai kain lurik adalah pemanfaatan benang katun, supaya membuahkan tekstur yang khas terhadap kain ini.

Sehingga sebuah kain bermotif lurik yang dipintal dari benang polyester, tidak bisa disebut sebagai kain lurik, gara-gara teksturnya yang berlainan bersama kain lurik yang terbuat dari katun.Di kota jepara sendiri pun udah dikembangkan oleh para pengrajin.

Sumber: http://www.grosirfashion.my.id